Sesekali di usapnya peluh di pipi
dengan punggung tangannya. Remaja berumur 12 tahun ini seorang pekerja keras.
Tak dihiraukan teman-teman lain yang sedang menikmati nasi bungkus beserta
segarnya es teh buatan Mbok Jami. Sengaja ia tak menoleh sedikitpun ke arah teman-temannya
agar tak tergoda. “Hei, Ar! Berhentilah dulu. Makan bersama kita sini. Mau kau
sakit lagi macam minggu lalu?” kata Pakdhe Sadi sambil mengangkat 1 nasi
bungkus yang masih utuh di tangan kanan dan es teh jatah Arjuna di tangan kiri.
“Tidak usahlah, pakdhe! Saya masih kuat.” Kata Arjuna berbohong. Jujur saja,
perutnya sudah keroncongan dari tadi. Namun, baginya sedetik sangatlah
berharga. Semua demi ayahnya. Ia bahkan rela berhenti sekolah.
“Ayolah,
Nak! Jangan terlalu dipaksakan. Sakit kau nanti. Kalau kau sakit semua repot.
Kasian ayah kau nanti cemas. Sini!” kembali suara itu lagi. Dia menepuk-nepuk
bangku kosong di sebelah kirinya. Ingin rasanya Arjuna menolak. Namun, tubuhnya
seolah tak mau bekerja sama dengannya. Seluruh anggota badannya seolah
berbicara padanya bahwa mereka tak kuat lagi. Memang, sejak tadi pagi Arjuna
belum makan hingga kini, jam 12.00. “Baiklah, pakdhe!” kata Arjuna akhirnya.
Pakdhe Sadi tersenyum. Dia bergeser sedikit ke kanan sehingga tempat duduk
Arjuna lebih luas. Dengan lahapnya Arjuna melahap jatahnya. Cukup 5 menit, yang
tersisa hanyalah kertas bewarna coklat, bekas nasi bungkus tadi dan gelas
kosong yang masih dingin jika dipegang. Tanpa berpikir panjang lagi, Arjuna
bekerja kembali. Dikenakannya topi bundar birunya dan diambilnya cangkul
disamping tempat duduknya tadi. Bangunan yang akan dibuat menjadi ruko ini baru
seperempat jadi. Bangunan ini akan menjadi bangunan yang cukup luas. Arjuna
melanjutkan pekerjaannya. Sesekali diusapnya peluh. Tanpa mengeluh dia terus bekerja
hingga adzan maghrib berkumandang.
Pakdhe
Sadi pun bersiap pulang. “Tak pulang kau, Nak?” tanya Paman Sadi. “Iya,
sebentar lagi, pakdhe.” Ucap Arjuna. “Ck.. ck.. ck.. janganlah terlalu
dipaksakan.” Arjuna hanya tersenyum. “Pakdhe pulang dulu saja.” Paman Sadi
hanya menggeleng mendengarnya. “Nanti ayah kau cemas, Nak.” Ucap Pakdhe Sadi. “Ah,
iya. Pakdhe benar!” ucap Arjuna menyetujui. Ia jadi merasa bersalah. Astaghfirullah,
ayahnya pasti cemas. Apakah ayah sudah
makan? Apakah ayah sudah minum obat? Apakah ayah sudah tidur atau masih
menungguku? Apakah keadaan ayah sudah membaik? Berbagai pertanyaan tiba-tiba
muncul di benak Arjuna. Tak perlu menunggu lama, ia pun beranjak pulang.
Dalam
perjalanan, hatinya galau. Ia tau obat ayahnya habis. Namun, bagaimana? Ia sungguh
tak punya uang untuk membelinya. Langkahnya menjadi semakin lambat, hatinya
mulai resah, lelah yang ia rasa tadi mulai terganti oleh pemikiran lain.
Sejenak matanya menatap seorang
wanita tua dengan baju mewah. Di tangannya tergenggam sebuah dompet. Arjuna
sungguh tak memiliki pilihan lain. Sambil tengak-tengok ke sana kemari, ia
pastikan sudah aman. Ia berlari dengan kencang ke arah wanita itu dan langsung
saja ia menyambar dompet dan langsung berlari kencang. “COPEEETTT...!!!” Wanita
itu berteriak. Tidak sedetikpun Arjuna menyempatkan untuk menoleh ke belakang. Gawat!
Sekilas Arjuna melihat Pakdhe Sardi. Ia harap Pakdhe Sardi tak melihatnya.
Ia berlari ke gang sempit di ujung
jalan. Pepohonan besar menyambutnya kala itu. Tanpa pikir panjang ia
bersembunyi di tempat yang ia rasa aman. Kerumunan orang mengikuti Arjuna
sampai ke gang itu. Namun, syukurlah tak ada yang melihatnya. Selang beberapa
saat, saat keadaan aman dari kerumunan orang, Arjuna keluar dan langsung ke
apotik untuk membeli obat ayahnya. Setelah itu, ia pun pulang.
Sampai di rumah, di teras
didapatinya Pakdhe Sadi bersama wanita tua tadi tengah berbincang pada ayah
Arjuna. Hati Arjuna dag dig dug. Ia ingin kabur namun terlambat. Ayahnya telah
melihat dan memanggilnya. Baru beberapa langkah, si wanita tua dan Paman Sadi
meninggalkan rumah Arjuna tanpa menoleh ke Arjuna. Sambil menunduk Arjuna
menghampiri ayahnya.
“Apa yang kamu mau, Ar? APA?! Beginikah
cara kamu? Beginikah ayah mengajari kamu?! Hah?!” Arjuna begitu terkejut
sehingga tak mampu berkata, namun ia mencoba. “Ma... ma.. maaf, Ayah. Arjuna tak
pernah bermaksud seperti itu. Arjuna hanya bingung bagaimana beli obat untuk
ayah. Maaf ayah, Arjuna tak akan mengulanginya lagi.” Ujar Arjuna, tetap
menunduk. Ayahnya langsung memeluknya. “Bukan begitu, Ar caranya.” Kata ayahnya
sambil menangis. Arjuna tau dia salah. “Arjuna benar-benar minta maaf, Yah.” Ayahnya
mengangguk. “Janji?” Arjuna mengangguk pula. Untungnya wanita tua tadi mau
memaafkan Arjuna.
Mereka pun masuk. Arjuna memberikan
obat tadi ke ayahnya. “Bagaimana keadaan ayah sekarang?” tanya Arjuna sambil
menatap iba ayahnya. “Uhuk.. uhuk.. ayah sudah membaik kok.. uhuk..” kata
ayahnya. Arjuna kembali menatap iba ayahnya. Sudah sekitar 2 bulan ayahnya
sakit batuk. Ini bukan batuk biasa. Batuknya tak kunjung sembuh. Tak tega ia
melihat ayahnya terbaring lemah di atas kasur. Yang ia inginkan kini hanya
satu, kesembuhan ayahnya.
Arjuna
hanya tinggal bersama ayahnya. Ditemani dengan lampu petromax kecil, mereka
hidup dengan damai. Tak pernah sekalipun mereka mengeluh atas kehidupan.
“Yah,
Arjuna tidur dulu, ya! Semoga ayah bermimpi indah.” Ujar Arjuna. Entah mengapa,
tiba-tiba saja hatinya gundah. Ia seperti punya firasat buruk. Entah apa.
Namun, ia mencoba menghilangkan semua prasangka itu. Ia pun merebahkan diri ke
tempat tidur. Ia terlelap dengan diselimuti akan firasat buruk.
Paginya
sekitar pukul 07.00 Arjuna berangkat. “Yah, Arjuna berangkat dulu.
Assalamualaikum.” Ucap Arjuna.
Pukul
07.30 Arjuna sudah sampai di tempat kerjanya. Ada kerumunan orang yang sedang
berkumpul. Ada apa ya? Arjuna masih bertanya-tanya.
“Hei, nak! Sini kau. Senang nian hati kau jika kesini.” Ujar Pakdhe Sadi. “Em,
wanita semalam itu siapa, Pakdhe?” tanya Arjuna. “Oh, wanita itu saudara
pakdhe.”. “Saya minta maafatas kejadian semalam.” Pakdhe Sadi mengangguk sambil
tersenyum. “Yang terpenting jangan kau ulaingi lagi perbuatan kau itu.”
Setelah itu, tanpa basa-basi Arjuna
menuju ke tempat kerumunan. “Arjuna Satrio Prasetyo...” panggil Pak Lanto, bos
Arjuna. Arjuna mengangkat tangannya tinggi-tinggi di tengah kerumunan
orang-orang itu. “Ini gajimu.” Ujar Pak Lanto. Arjuna lalu membuka amplop itu
secara perlahan. Ha?? Mimpikah ia?? Sadarkah ia?? Rasanya Arjuna seperti
melayang. Rp 300.000. Ya Allah, banyak sekali.
Saat
maghrib, Arjuna berlari pulang. Tak sabar rasanya ia memberi tahu ayahnya. Ia
ingin segera menepati janjinya. Dengan senyuman ia melangkah ke rumahnya.
Saat
sampai di rumahnya, banyak orang yang datang ke rumahnya. Ada apa ini? Di tengah kerumunan itu, terlihat Kakek Lito, kakek
Arjuna, terisak. Arjuna semakin bingung dibuatnya. “Kakek, ada apa ini?” Kakek
Lito menatap Arjuna. Apa arti tatapan ini? “Ayahmu. Ayahmu.. me... ninggal.”
Kata Kakek Lito sambil terbata-bata. Arjuna menangis sejadi-jadinya. “Arjuna,
kamu harus iklas. Ayahmu bukan milikmu sepenuhnya. Ia milik Allah semata. Kamu
harus menerima kenyataan. Ayahmu tak akan tenang disana. Biarkan dia pergi
menemui Allah. Doakan saja dia. Buat dia tersenyum di surga sana.” Arjuna pun
langsung berhenti menangis setelah mendengar ucapan Kakek Lito. “Ini, surat
dari ayahmu.” Arjuna pun membaca surat itu.
Arjuna, maafkan ayah. Ayah harus pergi.
Arjuna harus mandiri, ya! Kamu harus jadi pahlawan. Berkorbanlah untuk orang
yang kamu sayang. Terimakasih atas pengorbananmu selama ini untuk ayah. Maaf,
jika ayah belum bisa memberi kamu kehidupan yang layak. Maaf, ayah tidak bisa
terus berada di samping kamu. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Di suatu
tempat yang indah. Percayalah, Nak, Tuhan punya rencana dibalik semua cobaan
hidup ini. Terimakasih pahlawan kecilku ......
Perlahan butiran bening jatuh membasahi
kertas itu yang lebih dulu membasahi pipi Arjuna. Kembali diusapnya butiran itu
dengan punggung tangannya. Selamat jalan,
Ayah! Berbahagialah di surga sana bersama ibu. Aku akan jadi seperti yang ayah
minta. Aku senang bisa menjadi pahlawan kecil ayah. Yah, mungkin ragamu memang
tak lagi disampingku, namun, dihatiku telah terukir sebuah nama yang indah.
Sebuah nama yang akan selalu mengiringiku
di setiap langkahku serta akan selalu memberiku teladan. Nama orang yang selalu
kupanggil “AYAH”
Selang beberapa hari, setelah
kematian ayahnya, Arjuna tinggal bersama kakenya di Kalimantan Utara. Ia selalu
melakukan amanah ayahnya dulu.
Hai,
kalian yang udah nyempatin baca postingan ini =) Thanks udah mau mampir ke Dunia Astrid.
Oke, postingan kali ini aku tampilin sebuah CERPEN yang 100% made in
Astrid Wahyu. Rada gimana gitu deh ni CERPEN. Sorry. Tapi kritikan
bener-bener aku butuhin yaa untuk kedepannya supaya lebih wow! Okay, semoga kalian enjoy sama CERPEN di atas, ya! ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar