Minggu, 13 Oktober 2013

Arjuna Sang Pahlawan

Sesekali di usapnya peluh di pipi dengan punggung tangannya. Remaja berumur 12 tahun ini seorang pekerja keras. Tak dihiraukan teman-teman lain yang sedang menikmati nasi bungkus beserta segarnya es teh buatan Mbok Jami. Sengaja ia tak menoleh sedikitpun ke arah teman-temannya agar tak tergoda. “Hei, Ar! Berhentilah dulu. Makan bersama kita sini. Mau kau sakit lagi macam minggu lalu?” kata Pakdhe Sadi sambil mengangkat 1 nasi bungkus yang masih utuh di tangan kanan dan es teh jatah Arjuna di tangan kiri. “Tidak usahlah, pakdhe! Saya masih kuat.” Kata Arjuna berbohong. Jujur saja, perutnya sudah keroncongan dari tadi. Namun, baginya sedetik sangatlah berharga. Semua demi ayahnya. Ia bahkan rela berhenti sekolah.
            “Ayolah, Nak! Jangan terlalu dipaksakan. Sakit kau nanti. Kalau kau sakit semua repot. Kasian ayah kau nanti cemas. Sini!” kembali suara itu lagi. Dia menepuk-nepuk bangku kosong di sebelah kirinya. Ingin rasanya Arjuna menolak. Namun, tubuhnya seolah tak mau bekerja sama dengannya. Seluruh anggota badannya seolah berbicara padanya bahwa mereka tak kuat lagi. Memang, sejak tadi pagi Arjuna belum makan hingga kini, jam 12.00. “Baiklah, pakdhe!” kata Arjuna akhirnya. Pakdhe Sadi tersenyum. Dia bergeser sedikit ke kanan sehingga tempat duduk Arjuna lebih luas. Dengan lahapnya Arjuna melahap jatahnya. Cukup 5 menit, yang tersisa hanyalah kertas bewarna coklat, bekas nasi bungkus tadi dan gelas kosong yang masih dingin jika dipegang. Tanpa berpikir panjang lagi, Arjuna bekerja kembali. Dikenakannya topi bundar birunya dan diambilnya cangkul disamping tempat duduknya tadi. Bangunan yang akan dibuat menjadi ruko ini baru seperempat jadi. Bangunan ini akan menjadi bangunan yang cukup luas. Arjuna melanjutkan pekerjaannya. Sesekali diusapnya peluh. Tanpa mengeluh dia terus bekerja hingga adzan maghrib berkumandang.
            Pakdhe Sadi pun bersiap pulang. “Tak pulang kau, Nak?” tanya Paman Sadi. “Iya, sebentar lagi, pakdhe.” Ucap Arjuna. “Ck.. ck.. ck.. janganlah terlalu dipaksakan.” Arjuna hanya tersenyum. “Pakdhe pulang dulu saja.” Paman Sadi hanya menggeleng mendengarnya. “Nanti ayah kau cemas, Nak.” Ucap Pakdhe Sadi. “Ah, iya. Pakdhe benar!” ucap Arjuna menyetujui. Ia jadi merasa bersalah. Astaghfirullah, ayahnya pasti cemas. Apakah ayah sudah makan? Apakah ayah sudah minum obat? Apakah ayah sudah tidur atau masih menungguku? Apakah keadaan ayah sudah membaik? Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Arjuna. Tak perlu menunggu lama, ia pun beranjak pulang.
            Dalam perjalanan, hatinya galau. Ia tau obat ayahnya habis. Namun, bagaimana? Ia sungguh tak punya uang untuk membelinya. Langkahnya menjadi semakin lambat, hatinya mulai resah, lelah yang ia rasa tadi mulai terganti oleh pemikiran lain.
Sejenak matanya menatap seorang wanita tua dengan baju mewah. Di tangannya tergenggam sebuah dompet. Arjuna sungguh tak memiliki pilihan lain. Sambil tengak-tengok ke sana kemari, ia pastikan sudah aman. Ia berlari dengan kencang ke arah wanita itu dan langsung saja ia menyambar dompet dan langsung berlari kencang. “COPEEETTT...!!!” Wanita itu berteriak. Tidak sedetikpun Arjuna menyempatkan untuk menoleh ke belakang. Gawat! Sekilas Arjuna melihat Pakdhe Sardi. Ia harap Pakdhe Sardi tak melihatnya.
Ia berlari ke gang sempit di ujung jalan. Pepohonan besar menyambutnya kala itu. Tanpa pikir panjang ia bersembunyi di tempat yang ia rasa aman. Kerumunan orang mengikuti Arjuna sampai ke gang itu. Namun, syukurlah tak ada yang melihatnya. Selang beberapa saat, saat keadaan aman dari kerumunan orang, Arjuna keluar dan langsung ke apotik untuk membeli obat ayahnya. Setelah itu, ia pun pulang.
Sampai di rumah, di teras didapatinya Pakdhe Sadi bersama wanita tua tadi tengah berbincang pada ayah Arjuna. Hati Arjuna dag dig dug. Ia ingin kabur namun terlambat. Ayahnya telah melihat dan memanggilnya. Baru beberapa langkah, si wanita tua dan Paman Sadi meninggalkan rumah Arjuna tanpa menoleh ke Arjuna. Sambil menunduk Arjuna menghampiri ayahnya.
“Apa yang kamu mau, Ar? APA?! Beginikah cara kamu? Beginikah ayah mengajari kamu?! Hah?!” Arjuna begitu terkejut sehingga tak mampu berkata, namun ia mencoba. “Ma... ma.. maaf, Ayah. Arjuna tak pernah bermaksud seperti itu. Arjuna hanya bingung bagaimana beli obat untuk ayah. Maaf ayah, Arjuna tak akan mengulanginya lagi.” Ujar Arjuna, tetap menunduk. Ayahnya langsung memeluknya. “Bukan begitu, Ar caranya.” Kata ayahnya sambil menangis. Arjuna tau dia salah. “Arjuna benar-benar minta maaf, Yah.” Ayahnya mengangguk. “Janji?” Arjuna mengangguk pula. Untungnya wanita tua tadi mau memaafkan Arjuna.
Mereka pun masuk. Arjuna memberikan obat tadi ke ayahnya. “Bagaimana keadaan ayah sekarang?” tanya Arjuna sambil menatap iba ayahnya. “Uhuk.. uhuk.. ayah sudah membaik kok.. uhuk..” kata ayahnya. Arjuna kembali menatap iba ayahnya. Sudah sekitar 2 bulan ayahnya sakit batuk. Ini bukan batuk biasa. Batuknya tak kunjung sembuh. Tak tega ia melihat ayahnya terbaring lemah di atas kasur. Yang ia inginkan kini hanya satu, kesembuhan ayahnya.
            Arjuna hanya tinggal bersama ayahnya. Ditemani dengan lampu petromax kecil, mereka hidup dengan damai. Tak pernah sekalipun mereka mengeluh atas kehidupan.
            “Yah, Arjuna tidur dulu, ya! Semoga ayah bermimpi indah.” Ujar Arjuna. Entah mengapa, tiba-tiba saja hatinya gundah. Ia seperti punya firasat buruk. Entah apa. Namun, ia mencoba menghilangkan semua prasangka itu. Ia pun merebahkan diri ke tempat tidur. Ia terlelap dengan diselimuti akan firasat buruk.
            Paginya sekitar pukul 07.00 Arjuna berangkat. “Yah, Arjuna berangkat dulu. Assalamualaikum.” Ucap Arjuna.
            Pukul 07.30 Arjuna sudah sampai di tempat kerjanya. Ada kerumunan orang yang sedang berkumpul.  Ada apa ya? Arjuna masih bertanya-tanya. “Hei, nak! Sini kau. Senang nian hati kau jika kesini.” Ujar Pakdhe Sadi. “Em, wanita semalam itu siapa, Pakdhe?” tanya Arjuna. “Oh, wanita itu saudara pakdhe.”. “Saya minta maafatas kejadian semalam.” Pakdhe Sadi mengangguk sambil tersenyum. “Yang terpenting jangan kau ulaingi lagi perbuatan kau itu.”
Setelah itu, tanpa basa-basi Arjuna menuju ke tempat kerumunan. “Arjuna Satrio Prasetyo...” panggil Pak Lanto, bos Arjuna. Arjuna mengangkat tangannya tinggi-tinggi di tengah kerumunan orang-orang itu. “Ini gajimu.” Ujar Pak Lanto. Arjuna lalu membuka amplop itu secara perlahan. Ha?? Mimpikah ia?? Sadarkah ia?? Rasanya Arjuna seperti melayang. Rp 300.000. Ya Allah, banyak sekali.
            Saat maghrib, Arjuna berlari pulang. Tak sabar rasanya ia memberi tahu ayahnya. Ia ingin segera menepati janjinya. Dengan senyuman ia melangkah ke rumahnya.
            Saat sampai di rumahnya, banyak orang yang datang ke rumahnya. Ada apa ini? Di tengah kerumunan itu, terlihat Kakek Lito, kakek Arjuna, terisak. Arjuna semakin bingung dibuatnya. “Kakek, ada apa ini?” Kakek Lito menatap Arjuna. Apa arti tatapan ini? “Ayahmu. Ayahmu.. me... ninggal.” Kata Kakek Lito sambil terbata-bata. Arjuna menangis sejadi-jadinya. “Arjuna, kamu harus iklas. Ayahmu bukan milikmu sepenuhnya. Ia milik Allah semata. Kamu harus menerima kenyataan. Ayahmu tak akan tenang disana. Biarkan dia pergi menemui Allah. Doakan saja dia. Buat dia tersenyum di surga sana.” Arjuna pun langsung berhenti menangis setelah mendengar ucapan Kakek Lito. “Ini, surat dari ayahmu.” Arjuna pun membaca surat itu.

Arjuna, maafkan ayah. Ayah harus pergi. Arjuna harus mandiri, ya! Kamu harus jadi pahlawan. Berkorbanlah untuk orang yang kamu sayang. Terimakasih atas pengorbananmu selama ini untuk ayah. Maaf, jika ayah belum bisa memberi kamu kehidupan yang layak. Maaf, ayah tidak bisa terus berada di samping kamu. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Di suatu tempat yang indah. Percayalah, Nak, Tuhan punya rencana dibalik semua cobaan hidup ini. Terimakasih pahlawan kecilku ......
Perlahan butiran bening jatuh membasahi kertas itu yang lebih dulu membasahi pipi Arjuna. Kembali diusapnya butiran itu dengan punggung tangannya. Selamat jalan, Ayah! Berbahagialah di surga sana bersama ibu. Aku akan jadi seperti yang ayah minta. Aku senang bisa menjadi pahlawan kecil ayah. Yah, mungkin ragamu memang tak lagi disampingku, namun, dihatiku telah terukir sebuah nama yang indah. Sebuah nama yang akan  selalu mengiringiku di setiap langkahku serta akan selalu memberiku teladan. Nama orang yang selalu kupanggil “AYAH”
Selang beberapa hari, setelah kematian ayahnya, Arjuna tinggal bersama kakenya di Kalimantan Utara. Ia selalu melakukan amanah ayahnya dulu.
            
 
  
Hai, kalian yang udah nyempatin baca postingan ini =) Thanks udah mau mampir ke Dunia Astrid. Oke, postingan kali ini aku tampilin sebuah CERPEN yang 100% made in Astrid Wahyu. Rada gimana gitu deh ni CERPEN. Sorry. Tapi kritikan bener-bener aku butuhin yaa untuk kedepannya supaya lebih wow! Okay, semoga kalian enjoy sama CERPEN di atas, ya! ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar